REINKARNASI : Pengembaraan Sang Roh dan Bukti Ilmiahnya
Kehidupan itu abadi. Badan material yang selalu berganti, badan material ini bersifat sementara, namun sang diri sebenarnya adalah sang roh, yang bersifat kekal. Sang roh terus menerus berpindah dari satu badan ke badan lainnya sesuai dengan kesadaran dan perbuatannya (karma bandana) masing-masing. Lebih jauh weda menjelaskan bahwa sang roh di dunia material berpindah-pindah melalui siklus 8,400,000 bentuk kehidupan (spesies), dari kehidupan yang paling sederhana yaitu mahluk bersel satu, tumbuh-tumbuhan, hewan sampai bentuk manusia atau dewa. Bentuk manusia meruapakan satu-satunya kelahiran yang dapat menyediakan kesempatan bagi seseorang untuk kesempurnaan hidup diberikan kesadaran yang lebih sempurna dari pada mahluk hidup lainnya, dapat memahami jati diri kita serta mengerti bahwa tujuan hidup yang sebenarnya adalah bebas dari proses lingkaran kelahiran dan kematian. Sayangnya tidak ada lembaga pendidikan modern yang memberikan mata pelajaran tentang sang roh dan gejala-gejala keabadiannya.
Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel dalam suatu web bernama erabaru.or.id mengenai peradaban India yang musnah, terutama mengenai perang nuklir yang terjadi saat perang Mahabharata. Hal ini mengingatkan saya dengan Sloka-sloka yang ada dalam Srimad Bhagavatam dan penjelasan Srila Prabupada mengenai persenjataan mutakhir yang digunakan saat perang pada masa peradaban Veda. Hal ini membuktikan bahwa peradaban Veda yang dipaparkan dalam Srimad bhagavatam benar-benar pernah terjadi, dan peradaban tersebut jauh lebih mutakhir dari pada yang pernah diketahui oleh para ilmuwan modern.alamat web tersebut bukan alamat web tentang India ataupun tentang Hindu, melainkan suatu web untuk pengetahuan umum. Berikut ini adalah artikel yang telah saya baca dari web tersebut
Peradaban India Kuno yang Musnah
(Erabaru.or.id) - Mahabharata, adalah sebuah wiracarita India kuno yang terkenal, berbahasa Sansekerta, yang melukiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam memperebutkan takhta kerajaan. Bersama dengan Ramayana disebut sebagai 2 besar wiracarita India, yang ditulis pada tahun 1500 SM, dan hingga kini sudah sampai sekitar lebih dari 3.500 tahun. Fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut, masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya, artinya peristiwa yang dicatat dalam buku, kejadiannya hingga kini kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang silam.
Disebutkan bahwa orang dapat mencapai Surga atau Neraka sebagai hasil segala kegiatan mereka. Hal ini terjadi berdasarkan kombinasi karma yang telah dikumpulkan oleh seseorang dan sesuai dengan sifat-sifat alam (guna) tertentu yang ia miliki. Namun, apakah sebenarnya Surga dan Neraka itu? Apakah Surga merupakan sebuah tempat dimana kita dapat menikmati hidup secara abadi bersama dengan orang-orang yang pernah kita kenal dan pernah kita cintai? Apakah Neraka merupakan sebuah tempat dimana kita menderita kutukan abadi atas berbagai kesalahan karena kita tidak hidup seperti layaknya yang diyakini beberapa orang? atau apakah kita diberikan kesempatan hanya sekali dalam kehidupan ini untuk mencapai Surga atau terkutuk di Neraka selamanya? Atau semua ini hanyalah tingkatan pikiran?
Banyak orang memiliki banyak kesalahpahaman tentang apa itu Surga dan apa itu Neraka. Kebanyakan orang setuju bahwa menjalani sebuah kehidupan yang kedengaran religius untuk mencapai Surga, adalah tujuan tertinggi. Tetapi untuk meluruskannya, kita harus memiliki uraian tentang Surga dan Neraka secara mendetail, dan pengetahuan seperti ini dapat ditemukan di dalam literatur Veda.
Pertama-tama, kitab-kitab Veda setuju sistem planet Bumi ini merupakan sistem planet pertengahan di alam semesta. Dari sini seseorang dapat naik ke planet-planet Surgawi atau turun ke planet-planet Neraka. Seluruhnya, alam semesta ini tersusun atas empat belas susunan sistem planet, dan seperti halnya kita telah lahir di planet Bumi ini, kita dapat juga meningkatkan diri dengan kegiatan-kegiatan kita untuk lahir di setiap berbagai susunan planet baik yang di atas maupun yang di bawah. Untuk lebih memahami bagaimana semua hal ini terjadi, pertama kita harus mengerti dimanakah Surga dan Neraka berada di dalam alam semesta ini.
Harih Om. Tersebutlah pada akhir zaman dvapara, maha Resi Narada datang menghadap dewa Brahma dan bertanya, “Wahai Bhagavan, Guruku yang mulia, dengan berkeliling-keliling di dunia ini, bagaimanakah caranya agar hamba mampu melepaskan diri dari pengaruh zaman kali?
Dewa Brahma selanjutnya menjawab. “Pertanyaanmu adalah pertanyaan yang sangat baik, apa-apa yang seluruhnya Sruti Sastra ( Rg Veda, yajur Veda, Sama Veda, Atharva Veda, dan lain-lain ) tersimpan secara rahasia dan rohani, dengarlah hal itu dengan baik, dengan nama engkau akan mampu menyeberangi kesengsaraan pada zaman Kali berupa kelahiran dan kematian berulang kali.
Hanya dengan mengucapkan Nama-nama suci Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Yang Awal, Narayana, akan mampu menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk zaman Kali”. Maha Resi Narada kembali bertanya sebagai berikut, “Nama suci manakah yang anda maksudkan itu?”. Selanjutnya dewa Brahma menjawab : (1) hare, (2). Rama, (3). Hare, (4). Rama, (5). Rama, (6). Rama, (7). Hare, (8). Hare, (9). Hare, (10). Krsna, (11). Hare, (12). Krsna, (13). Krsna, (14). Krsna, (15). Hare, (16). Hare. Keenam belas Nama-nama Suci tuhan Yang Maha Esa ini menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk dalam zaman Kali. Sama sekali tidak ada cara lain yang lebih ampuh daripada ini yang dapat ditemukan di dalam seluruh literatur Veda.
Alam semesta, disebut juga jagat raya, begitu menakjubkan serta masih menyimpan banyak misteri. Walaupun saat ini kemajuan ilmu pengatahuan telah demikian pesatnya, namun pemahaman tentang rahasia alam semesta masih sangat sempit. Pandangan sains modern sering kali bertentangan dengan pandangan Vedanta (agama) sehingga sering menimbulkan konflik. Keajaiban dan keteraturan alam semesta begitu rumit dijelaskan dengana ilmu pengetahuan modern (sains), pada akhirnya kebuntuan sains modern dalam menjelajah alam semesta menyebabkan para ilmuwan mengakui bahwa di balik gejala-gejala alam semesta ada Ilmuwan Super Cerdas yang merancang dan mengendalikan alam semesta tersebut. Para ilmuwan menyebutNya dengan Intelligent Design, yang merujuk kepada Personalitas Tuhan, Sang Maha Pencipta. Bhagavadgita dan Srimad Bhagavatam berulang kali menyatakan ; ”....... Akulah sumber dan pengendali, baik dunia rohani maupun dunia material....” Siapakah Intelligent Design dimaksud? Bagaimanakan proses penciptaan itu terjadi? Banyak lagi pertanyaan yang masih belum terungkap.
Yayasan Bhaktivedanta dan Sampradaya Krishna akan mengajak para ilmuwan dan spiritualis untuk berbagi pengetahuan dalam Seminar Sains & Spiritual Nasional III dengan topik ”ALAM SEMESTA : Perspektif Sains & Vedanta” kami mengharapkan seminar tersebut akan menambah wawasan tentang ; penciptaan dan fenomena alam, sehingga ilmu pengetahuan modern dan spiritualitas dapat bergandeng bersama untuk umat kepentingan manusia.
Kami mengundang Bapak/Ibu/Sahabat untuk hadir pada seminar tersebut. Terima kasih.
Pada zaman kita hidup saat ini dikenal dengan zaman postmodern dimana perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan sangat pesat terjadi dan. Seluruh pengembangan tersebut bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kelancaran manusia dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari, makan, tidur, membela diri, berketurunan dan lain sebagainya. Namun yang menjadi dilema adalah bahwa justru dengan perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi tersebut memberikan kecemasan terhadap umat manusia seperti pengembangan teknologi senjata yang bertujuan untuk memberikan keamanan bagi manusia justru menjadi ancaman bagi manusia itu sendiri. Fenomena yang lain juga terjadi karena perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan seperti adanya internet yang bertujuan memberikan kemudahan seseorang dalam memperoleh informasi justru menjadi sumber ancaman bagi moral dan etika seseorang. Berkembangnya sutau teknolgi bagi manusia untuk mendapatkan makanan cepat saji namun sumber dari berbagai penyakit. Beberapa fenomena yang lain terjadi merupakan suatu ironi bagi manusia yang hidup pada masa postmodern ini.
Tetapi kita tidak serta merta menyalahkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena fenomena-fenomena tersebut. Tidak pula secara spontan kita meninggalkan kehidupan postmodern ini menjadi zaman batu atau kembali ke zaman primitif dan hal itupun sepertinya susah untuk dilakukan mengingat manusia sangat tergantung dengan kebutuhan-kebutuhan teknologi dan ilmu pengetahuan. dengan kata lain, manusia pada zaman postmodern ini sungguh kurang beruntung keadaanya. Meskipun siapapun yang ada di dunia ini pasti dibelenggu oleh hukum alam, penykit, usia tua dan kematian. Penderitaan karena penyakit, kecemasan akan usia tua dan ketakutan akan kematian.
Ada seorang rekan dekat yang mengirimkan sloka ini, yang dia jadikan sebagai motto untuk dupa karyanya sendiri.
patram puspam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami prayatatmanah
"If one offers Me with love and devotion a leaf, a flower, fruit or water, I will accept it." - The Bhagavad Gita (9.26)
Di jaman sekarang sulit sekali menghindari kontaminasi makanan dan pergaulan. Sepertinya kita perlu mendisiplinkan diri dari dalam dengan indah. Jenis makanan ada tiga, dan mungkin sudah sering dibahas, Sattva-guna, Raja-guna dan Tama-guna.
Makanan Sattva-guna sangat baik dikonsumsi karena berguna bagi tubuh dan pikiran. Contoh yang tergolong jenis makanan ini adalah : buah-buahan, susu dan olahannya, padi-padian, berbagai macam sayuran, pemanis alamiah, merica, kemiri, rempah-rempah dan tanaman bumbu.
Makanan dan persiapan untuk membuat makanan adalah sangat penting bagi seorang penyembah Tuhan, karena, tidak hanya mempertimbangkan mengenai vegetarian tetapi juga sebagai pintu gerbang menuju kebebasan yang sebenarnya.
Bila kita mempersembahkan makanan kepada Tuhan, the Supreme Person (Krishna), sebelum kita memakannya, maka itu akan menspiritualkan kesadaran kita dengan mem-fokuskan pikiran kita kepada kualitas yang mengagumkan pada diri Tuhan itu sendiri. Mengapa ? Karena Beliau, secara keseluruhan, adalah sumber dari apa yang kita makan.